Konsep dan Karakteristik Inovasi Pai

Konsep dan Karakteristik Inovasi Pai

A.    PENDAHULUAN
Inovasi dalam Pendidikan Agama Islam (PAI) merupakan suatu hal mendasar yang sangat urgen untuk segera mungkin diimplementasikan, sebab dunia pendidikan Islam dituntut untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan pembangunan bangsa di segala bidang. Satu misal perkembangan teknologi dan informasi yang cepat dalam berbagai aspek kehidupan termasuk dalam bidang pendidikan khususnya pendidikan Islam, merupakan suatu upaya untuk menjembatani masa sekarang dan masa mendatang dengan cara memperkenalkan pembaharuan-pembaharuan yang berkecenderungan mengejar efisiensi dan efektivitas.
Pembaharuan mengiringi perputaran zaman yang semakin dinamis. Kebutuhan akan layanan individual terhadap peserta didik dan perbaikan kesempatan belajar bagi mereka, telah menjadi pendorong utama timbulnya pembaharuan pendidikan agama Islam. Oleh sebab itu, lembaga pendidikan Islam harus mampu beradaptasi dengan perkembangan tersebut dengan terus mengupayakan suatu program yang sesuai dengan perkembangan anak, perkembangan zaman, situasi, kondisi, dan kebutuhan peserta didik. Pada kesempatan ini penulis akan memeparkan tentang :
  1. Konsep Inovasi Pendidikan Agama Islam.
  2. Penyebab Lahirnya Inovasi Pendidikan Agama Islam
  3. Karakteristik Inovasi Pendidikan Islam
  4. Karakteristik Inovasi Pendidikan Islam
  5. Inovasi Pendidikan Islam Menuju Pendidikan Islam yang Utama
  6. Beberapa innovasi yang dilakukan dalam pendidikan agama Islam
B.     PEMBAHASAN
1.      Konsep Inovasi Pendidikan Agama Islam (PAI)
Sebelum dijelaskan tentang pengertian inovasi pendidikan terlebih dulu akan dijelaskan arti inovasi secara umum. Kata inovasi berasal dari kata innovation, yang sering diterjemahkan sebagai suatu hal yang baru atau pembaharuan, namun ada pula yang menggunakan kata tersebut untuk menyatakan penemuan (invention), karena sebagian inovasi yang ada merupakan merupakan hasil penemuan. Ada juga yang mengkaitkan antara pengertian inovasi dengan modernisasi, karena keduanya membicarakan usaha pembaharuan. Berdasarkan pengertian dasar tersebut, kata inovasi dapat diartikan sebagai: suatu ide, barang, kejadian, metode, yang dirasakan atau diamati sebagai suatu hal yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang (masyarakat), baik itu hasil penemuan atau discovery.[1]
Sedangkan istilah pendidikan Islam pada umumnya mengacu kepada terminologi at-Tarbiyah, al-Ta’dib dan al-Ta’lim, pengertian dasarnya menunjukkan makna tumbuh, berkembang, memelihara, merawat, mengatur, menjaga kelestarian dan eksistensinya. Sedangkan secara filosofis mengisyaratkan bahwa proses pendidikan Islam adalah bersumber pada pendidikan yang diberikan Allah sebagai pendidik seluruh ciptaan-Nya, termasuk manusia.
Jadi yang dimaksud dengan inovasi Pendidikan Agama Islam dapat diartikan sebagai pembaharuan untuk memecahkan masalah di dalam pendidikan Islam. Atau dengan perkataan lain, inovasi pendidikan agama Islam ialah suatu ide, barang, metode, yang dirasakan atau diamati sebagai hal yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang (masyarakat) baik berupa hasil penemuan (invention), atau discovery, yang digunakan untuk mencapai tujuan atau memecahkan masalah pendidikan Islam.
Pembaharuan atau tajdid dalam Islam atau pendidikan Islam adalah sesuatu yang fitrah sifatnya. Islam bukanlah suatu agama yang beku dalam pemikiran dan statis dalam amalan. Dinamika Islam memberikan ruang kepada kreativitas. Kreativitas dalam pemikiran Islam adalah dituntut tanpa menolak faktor syara’.
Berfikir reflektif adalah suatu keperluan karena perubahan hari ini dan hari depan berasaskan cerminan masa lalu supaya terwujud kesinambungan antara yang lalu dengan hari ini. Apa yang berlaku pada masa lalu memberikan kita landasan tradisi yang baik. Upaya umat Islam mengimbangi faktor perubahan zaman ialah kebijaksanaan menjembatani faktor tradisi yang baik dan cemerlang dengan faktor perubahan kini yang tidak lari dari kerangka fitrah.
2.      Penyebab Lahirnya Inovasi Pendidikan Agama Islam
Kejayaan Islam dalam ilmu pengetahuan mengalami kemunduran setelah kota Baghdad yang merupakan pusat ilmu pengetahuan dihancurkan oleh tentara Mongol pada 1258.[2]  Meskipun kejayaan Islam masih berlanjut hingga berakhirnya Turki Ustmani, namun dalam bidang ilmu pengetahuan umat Islam mengalami kemunduran, karena umat Islam ketika itu kurang tertarik kepada sains, sebagaimana umat Islam pada masa sebelumnya.
Umat Islam mulai sadar akan ketertinggalannya dari dunia Barat pada sekitar abad ke-19. Negara Islam di bagian Barat dan Timur membuka mata umat Islam untuk menyaingi Barat. Dengan demikian, jelaslah bahwa penyebab lahirnya inovasi dalam pendidikan Islam bukan akibat adanya pertentangan antara kaum agama dan ilmuwan sebagaimana dalam agama Kristen, melainkan karena adanya perasaan tertinggal dari kemajuan dunia Barat.
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dicapai Barat telah menggeser pandangan hidup manusia serta melahirkan terma-terma baru, seperti nasionalisme dan pendidikan. Pendidikan merupakan sarana paling penting bukan hanya sebagai wahana konservasi dalam arti tempat pemeliharaan, pelestarian, penanaman, dan pewarisan nilai-nilai dari tradisi suatu masyarakat, tetapi juga sebagai sarana kreasi yang dapat menciptakan, mengembangkan dan mentransfornasikan umat ke arah pembentukan budaya baru. Oleh karena itu, tokoh-tokoh pembaharuan Islam banyak menggunakan pendidikan Islam, baik yang bersifat formal, non-formal, untuk menyadarkan umat kembali kepada kejayaan Islam seperti masa lampau.
3.      Karakteristik Inovasi Pendidikan Islam
Cepat lambatnya penerimaan sebuah inovasi dalam pendidikan sangat dipengaruhi oleh karakteristik inovasi itu sendiri. Satu misalnya, sosialisasi penggunaan media pendidikan tertentu akan membutuhkan waktu yang relative berbeda antara satu daerah dengan daerah lain. Dalam hal ini, Everett M. Rogers mengemukakan karakteristik inovasi yang dapat mempengaruhi cepat atau lambatnya penerimaan inovasi, antara lain sebagai berikut:[3]
a.    Keuntungan Relatif
Keuntungan relatif yaitu sejauh mana inovasi dianggap menguntungkan bagi penerimanya. Tingkat keuntungan atau kemanfaatan suatu inovasi dapat diukur berdasarkan nilai ekonominya atau mungkin dari faktor status sosial (gengsi), kesenangan, kepuasan atau karena mempunyai komponen yang sangat penting. Makin menguntungkan bagi pengguna maka makin cepat tersebar inovasi.
b.    Kompatibel (Compatibility)
Kompatibel adalah tingkat kesesuaian inovasi dengan nilai (values), pengetahuan lalu, dan kebutuhan dari penerima. Inovasi yang tidak sesuai dengan nilai dengan norma atau nilai yang diyakini oleh penerima tidak akan diterima secepat inovasi yang sesuai dengan norma yang ada. Misalnya penyebarluasan penggunaan alat kontrasepsi di masyarakat yang mempunyai keyakinan agamanya melarang penggunaan alat tersebut, maka tentu saja penyebaran inovasi akan terhambat.
c.    Kompleksitas (complexity)
Kompleksitas adalah tingkat kesukaran untuk memahami dan menggunakan inovasi bagi penerima. Suatu inovasi yang mudah dimengerti dan mudah digunakan oleh penerima akan cepat tersebar, sedangkan inovasi yang sukar dimengerti atau sukar digunakan oleh penerima akan lambat proses penyebarannya. Misalnya masyarakat pedesaan yang tidak mengetahui tentang teori penyebaran bibit penyakit melalui kuman, diberitahu oleh penyuluh kesehatan agar membiasakan memasak air yang akan diminum, karena air yang tidak dimasak jika diminum dapat menyebabkan sakit perut. Tentu saja ajakan itu sukar dimengerti, makin mudah dimengerti suatu inovasi maka semakin mudah diterima oleh masyarakat.
d.    Trialabilitas (trialability)
Trialabilitas adalah dapat dicoba atau tidaknya suatu inovasi oleh penerima. Suatu inovasi yang dicoba akan cepat diterima oleh masyarakat daripada inovasi yang tidak dapat dicoba terlebih dahulu. Misalnya penyebarluasan penggunaan bibit unggul padi gogo akan cepat diterima jika masyarakat dapat mencoba menanam dan dapat melihat hasilnya.
e.    Dapat diamati (observability)
Observabilitas adalah mudah tidaknya suatu inovasi diamati proses serta hasilnya. Suatu inovasi yang dapat diamati hasil srta prosesnya dapat diterima dengan mudah oleh masyarakat, sebaliknya inovasi yang sukar diamati hasilnya akan lambat dan sukar untuk diterima masyarakat. Misalnya penyebarluasan penggunaan bibit unggul padi, karena petani dapat dengan mudah melihat hasil padi yang menggunakan bibit unggul tersebut maka akan mudah inovasi disebarluaskan dan diperkenalkan. Tetapi mengajak petani yang buta huruf untuk belajar membaca dan menulis tidak dapat segera dibuktikan karena para petani sukar untuk mambaca panduan atau petunjuk yang diberikan.

4.      Faktor Penunjang dan Penghambat Inovasi Pendidikan Islam
Faktor penunjang terhadap inovasi pendidikan Islam yaitu:
a.       Pokok-pokok pikiran tentang inovasi pendidikan Islam yang datang dari luar negeri, juga tidak kalah pentingnya dengan faktor-faktor yang lain. Karena, dengan pemikiran-pemikiran itulah, PAI melakukan perubahan-perubahan materi pelajaran pendidikan Islam.
b.      Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena dengan banyaknya referensi yang bisa di dapatkan dari internet, maka akan memperkaya khasanah ilmu pengetahuan.
Pembelajaran yang berbasis TI ini, banyak bertumpu pada aktifitas siswa, maka guru tidak lagi sebagai satu-satunya agent of information, melainkan lebih berperan sabagai penggerak, inovator, motivator, dinamisator, katalisator, penghubung, fasilitator, korektor, pengaya, dan evaluator.[4]
Di samping adanya faktor penunjang dalam usaha mengadakan pembaharuan, tidak sedikit juga kita akan menghadapi faktor-faktor penghambat jalannya pembaharuan pendidikan Islam ini. Faktor penghambat yang ditemui di antaranya, yaitu:
a.       Adanya pertentangan antara Ulama Muda dan Ulama Tua yang pada akhirnya melahirkan istilah Kaum Muda dan Kaum Tua.
b.      Dikotomi atau diskrit
Segala sesuatu hanya dilihat dari dua sisi yang berlawanan, seperti laki-laki dan perempuan, ada dan tidak ada, bulat dan tidak bulat, madrasah dan non madrasah, pendidikan keagamaan dan non keagamaan atau pendidikan agama dan pendidikan umum, demikian seterusnya.
Pandangan yang dikotomis[5] tersebut pada giliran selanjutnya dikembangkan dalam melihat dan memandang aspek kehidupan dunia dan akhirat, kehidupan jasmani dan rohani sehingga pendidikan Islam hanya diletakkan pada aspek kehidupan akhirat saja atau kehidupan rohani saja.
Di dalam Islam sejatinya tidak pernah membedakan antara ilmu-ilmu agama dan ilmu umum (keduniaan), dan/atau tidak berpandangan dikotomis mengenai ilmu pengetahuan. Namun demikian, dalam realitas sejarahnya justru supremasi lebih diberikan pada ilmu-ilmu agama (al-‘ulum al-diniyah) sebagai jalan tol untuk menuju Tuhan. Sehingga menyebabkan kemunduran peradaban Islam serta keterbelakangan sains dan teknologi di dunia Islam. Hal ini terjadi bukan saja karena faktor dari luar tapi juga banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor dari diri umat Islam itu sendiri, yang kurang peduli terhadap kebebasan penalaran intelektual dan kurang menghargai kajian-kajian rasional-empiris atau semangat pengembangan ilmiah dan filosofis.
c.       Pembenturan umat Islam dengan pendidikan dan kemajuan Barat memunculkan kaum intelektual baru (cendekiawan sekuler).
Menurut Benda (dalam Sartono Kartodirjo, ed, 1981) sebagian besar kaum intelektual baru adalah hasil pendidikan Barat yang terlatih berpikir secara Barat. Dalam proses pendidikannya, mereka mengalami brain washing (cuci otak) dari hal-hal yang berbau Islam, sehingga mereka menjadi teralienasi (terasing) dari ajaran-ajaran Islam dan muslim sendiri. Bahkan terjadi gap antara kaum intelektual baru (sekuler) dengan intelektual lama (ulama), dan ulama dikonotasikan sebagai kaum sarungan yang hanya mengerti soal-soal keagamaan dan buta masalah keduniawian.
Sebagai implikasinya, pengembangan pendidikan Islam dalam arti pendidikan agama tersebut bergantung pada kemauan, kemampuan, dan political-will dari pembinanya dan sekaligus pimpinan dari lembaga pendidikan tersebut, terutama dalam membangun hubungan kerjasama dengan mata pelajaran (kuliah) lainnya. Hubungan (relasi) antara pendidikan agama dengan beberapa mata pelajaran (mata kuliah) lainnya dapat bersifat horizontal-lateral (independent), lateral-sekuensial, atau bahkan vertical linier.
Pengertian ini menggaris bawahi pentingnya kerangka pemikiran yang dibangun dari fundamental doctrins dan fundamental values yang tertuang dan terkandung dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah shahihah sebagai sumber pokok, kemudian mau menerima kontribusi dari para ahli serta mempertimbangkan konteks historisnya. Karena itu, nilai Ilahi/agama/wahyu didudukkan sebagai sumber konsultasi yang bijak, sementara aspek-aspek kehidupan lainnya didudukkan sebagai nilai insani yang mempunyai relasi horizontal-lateral atau lateral-sekuensial, tetapi harus berhubungan vertical-linier dengan nilai ilahi/agama.
Melalui upaya semacam itu maka sistem pendidikan Islam[6] diharapkan dapat mengintegrasikan nilai-nilai ilmu pengetahuan, nilai-nilai agama dan etik, serta mampu melahirkan manusia-manusia yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, memiliki kematangan professional, dan sekaligus hidup di dalam nilai-nilai agama.
5.      Inovasi Pendidikan Islam Menuju Pendidikan Islam yang Utama
Menurut Taha Jabir, seorang tokoh ilmuan Islam menyebutkan umat Islam berada di tiga persimpangan. Persimpangan tersebut yaitu:
a.       Terus menggunakan ilmu-ilmu yang sifatnya tradisional dengan metodologinya. Pendekatan ini disebut sebagai pendekatan authentic atau kekal seaslinya.
b.      Umat Islam berhadapan dengan faktor perubahan zaman yang dikatakan modern yaitu berlakunya dinamika ilmu dikembangkan dengan menggunakan kekuatan metodologi terkini. Pendekatan ini disebut sebagai pendekatan modernistik.
c.       Umat Islam perlu menyaring asas tradisi, memilih asas-asas prinsipnya dan mengolahnya kemudian menggunakan pendekatan terkini, supaya faktor perubahan berlaku tanpa menghilangkan maksud keaslian dan tradisinya. Ini disebut sebagai pendekatan eklektik. Pendekatan eklektik belum begitu berkembang dan sering menerima kritik. Pengkritik yang cenderung kepada asas epistemologi atau asas-usul ilmu sering tidak setuju sementara yang lain merasakan suatu kewajaran kerena meskipun metodologinya dinamik, prinsip dan ruh ilmu dan pendidikan tetap tidak berubah.

Hal ini senada dengan salah satu prinsip pendidikan Islam yang dikemukakan oleh Muhammad Munir Mursi dalam bukunya Al-Tarbiyah al-Islamiyah Ushuluha wa Tathawuruha fi al-Bilad al-Arabiyah, “Pendidikan Islam adalah pendidikan yang terbuka”. Hal ini dipahami bahwa Islam merupakan agama Samawi, yang memiliki nilai-nilai absolut dan universal, namun masih mengakui keberadaan nilai-nilai yang berlaku pada masyarakat. Islam mempunyai pandangan, tidak semua nilai yang telah membudaya dalam kehidupan masyarakat, diterima atau ditolak.
Sikap Islam dalam menghadapi tata nilai masyarakat, agar tercapainya inovasi pendidikan islam menuju pendidikan islam yang utama di dasarkan pada lima macam klasifikasi yaitu:
a.    Memelihara unsur-unsur nilai dan norma yang sudah mapan dan positif.
b.    Menghilangkan unsur-unsur nilai dan norma yang sudah mapan tetapi negatif.
c.    Menumbuhkan unsur-unsur nilai dan norma baru yang belum ada dan dianggap positif.
d.    Bersikap menerima (receptive), memilih (selective), mencerna (digestive), menggabung-gabungkan dalam satu sistem (assimilative), dan menyampaikan pada orang lain (transmissive) terhadap nilai pada umumnya.

Berdasarkan fenomena di atas maka perlu adanya gagasan baru/pembaharuan (inovasi) pendidikan Islam di Indonesia dalam masa yang akan datang antara lain: perlu mengubah dan mengembangkan paradigma lama menjadi paradigma baru. Jadi kita harus mau meninggalkan yang sudah tidak sesuai (relevan) dengan tuntutan era informasi dan demokrasi. Perlu mengembangkan nilai-nilai lama yang sekiranya masih dapat di manfaatkan dan menciptakan pandangan baru yang sesuai dengan kebutuhan zaman.
Untuk itu perlu adanya tawaran gagasan-gagasan untuk menata ulang pemikiran sistem pendidikan nasional. Meskipun pendidikan mempunyai banyak nama dan wajah, seperti pendidikan keluarga, sekolah, masyarakat, pondok pesantren, program diploma, dan lainnya. Namun pada hakekatnya pendidikan adalah mengembangkan semua potensi daya manusia menuju kedewasaan sehingga mampu hidup mandiri dan mampu pula mengembangkan tata kehidupan bersama yang lebih baik sesuai dengan tantangan atau kebutuhan zamannya. Dengan kata lain bahwa hakekat pendidikan adalah mengembangkan human dignity yaitu harkat dan martabat manusia atau humanizing human, yaitu memanusiakan manusia sehingga benar-benar mampu menjadi khalifah di muka bumi.
6.      Beberapa innovasi yang dilakukan dalam pendidikan agama Islam
Inovasi yang dilakukan dalam pendidikan agama islam adalah:
a.       Inovasi dalam proses pembelajaran
Proses belajar mengajar harus didasaskan pada prinsip belajar siswa aktif (Student active learning). Lebih menekankan pada proses pembelajaran dan bukan mengajar. Proses pembelajaran di dasarkan pada learning kompetensi yaitu peserta didik akan memiliki pengetahuan, ketrampilan, sikap, wawasan dan penerapannya sesuai dengan kriteria atau tujuan pembelajaran. Proses beelajar diorientasikan pada pengembangan kepribadian yang optimal dan didasarkan pada nilai-nilai ilahiyah. Menurut prinsip ini, peserta didik diberi kesempatan untuk secara aktif merealisaikan segala potensi bawaan kearah tujuan yang diinginkan yaitu menjdi manusia muslim yang berkualitas.[7]
b.      Inovasi dalam evaluasi pembelajaran
Pendidkan agama islam tidak hanya menekankan pada penilaian secara kognitif melainkan penilaian secara praktek atau pengaplikasian dalam kehidupan. Pendidkan yang efektif sebaiknya menekankan pemahaman konsep dan kemampuan di bidang kognitif, ketrampilan, sosial dan efektif. Evaluasi pembelajaran dilakukan secara terpadu yang di dalamnya menitikberatkan pada praktek atau pengaplikasian dalam kehidupan sehari-hari.

C.    KESIMPULAN
  1. Jadi yang dimaksud dengan inovasi Pendidikan Agama Islam dapat diartikan sebagai pembaharuan untuk memecahkan masalah di dalam pendidikan Islam. Atau dengan perkataan lain, inovasi pendidikan agama Islam ialah suatu ide, barang, metode, yang dirasakan atau diamati sebagai hal yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang (masyarakat) baik berupa hasil penemuan (invention), atau discovery, yang digunakan untuk mencapai tujuan atau memecahkan masalah pendidikan Islam
  2. Penyebab lahirnya inovasi dalam pendidikan Islam bukan akibat adanya pertentangan antara kaum agama dan ilmuwan sebagaimana dalam agama Kristen, melainkan karena adanya perasaan tertinggal dari kemajuan dunia Barat.
  3. Karakteristik Inovasi Pendidikan Islam diantaranya : Keuntungan Relatif, Kompatibel, Kompleksitas, Trialabilitas, Dapat diamati.
  4. Faktor Penunjang pertama Pokok-pokok pikiran tentang inovasi pendidikan Islam yang datang dari luar negeri, Kedua Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena dengan banyaknya referensi yang bisa di dapatkan dari internet, maka akan memperkaya khasanah ilmu pengetahuan. Faktor Penghambat Pertama Adanya pertentangan antara Ulama Muda dan Ulama Tua yang pada akhirnya melahirkan istilah Kaum Muda dan Kaum Tua, Kedua Dikotomi atau diskrit, Ketiga Pembenturan umat Islam dengan pendidikan dan kemajuan Barat memunculkan kaum intelektual baru
  1. Karakteristik Inovasi Pendidikan Islam
Pertama memelihara unsur-unsur nilai dan norma yang sudah mapan dan positif.Kedua menghilangkan unsur-unsur nilai dan norma yang sudah mapan tetapi negatif. Ketiga menumbuhkan unsur-unsur nilai dan norma baru yang belum ada dan dianggap positif.Keempat bersikap menerima ,memilih, mencerna, menggabung-gabungkan dalam satu sistem, dan menyampaikan pada orang lain terhadap nilai pada umumnya
  1. Beberapa innovasi yang dilakukan dalam pendidikan agama Islam Petama inovasi dalam proses pembelajaran Kedua Inovasi dalam evaluasi pembelajaran

DAFTAR  PUSTAKA

Al-Rasyidin dan Samsul Nizar,  Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Ciputat Press, t.th
Armai. Arief, 2009, Pembahan Pendidikan Islam di Minangkabau, Jakarta: Suara Adi, cet. ke-1
Hasan , Muhammad Tholchah , 1987 Islam dalam Perspektif Sosial Budaya. Jakarta: Galasa Nusantara.
Hasbullah, 1996 Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: Rajawal Pers,
Hujair AH. Sanaky. 2003. Paradigma Pendidikan Islami. Jakarta: Satria insani Press.
Muhaimin, 2004, et.al, Paradigma Pendidikan Islam, Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah. Cet ke- III.  Bandung: Remaja Rosdakarya.
Mujib, Abdul dan Jusuf Mudzakkir, 2008, Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana.
Nata, Abuddin, 2009. Ilmu pendidikan Islam dengan pendekatan multidisipliner. Jakarta: Rajawali Pers.



[1] Diskoveri atau discovery merupakan penemuan suatu hal yang hakikatnya sudah ada, namun belum banyak diketahui orang. Misal, penemuan benua Amerika. Pada kasus tersebut, benua Amerika sebenarnya sudah lebih dulu ada, barulah kemudian Columbus menginjakkan kaki pertama kali pada tahun 1492 yang kemudian dia dinobatkan sebagai penemu benua Amerika. Lihat, Udin Syaefudin Sa’ud, Inovasi Pendidikan, (Bandung: Alfabeta, 2014), cet. VII, 3.
[2]  Peter Jackson, “The Dissolution of the Mongol Empire,” Central Asiatic Journal 32 (1978): 186-243.
[3] Udin Syaefudin Sa’ud, Inovasi Pendidikan, (Bandung: Alfabeta, 2014), cet. VII, 21-22.
[4]Abuddin Nata, Ilmu Pendidikan Islam dengan Pendekatan Multidisipliner, (Jakarta: Rajawali Pers, 2009), 263.
[5] Pengertian dikotomi atau dikotomis, yakni membedakan dan mempertentangkan dua hal yang berbeda. Lebih spesifik dapat dikatakan pembagian atas dua kelompok yang saling bertentangan. Lihat, Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2001), 264.
[6] Abuddin Nata, Rekonstruksi Pendidikan Islam, (Jakarta: Rajawali Press, 2009), 34.
[7] Hujair AH. Sanaky, Paradigma Pendidikan Islami, (Jakarta: Satria Insani Press, 2003),  191.

Postingan terkait: